PURWOKERTO – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto akan mengukuhkan Abdul Basit, sebagai guru besar Ilmu Dakwah, pada Sidang Senat Terbuka IAIN Purwokerto dalam rangka Pengukuhan Guru Besar di Auditorium IAIN Purwokerto, Selasa (6/11). Pria asal Tambun, Bekasi itu, merupakan guru besar ke- 2 di IAIN Purwokerto, dan guru besar pertama di Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto.

Direktur Pascasarjana IAIN Purwokerto itu akan menyampaikan orasi ilmiah, dengan tema “Hermeneutika Dakwah Kampus: Radikalisme Islam, Kontestasi Ideologi, dan Konstruksinya”. Menurut penelitiannya, munculnya radikalisme Islam di kampus karena banyak faktor. Di antaranya faktor ekonomi, lemahnya pemahaman agama, kondisi sosio-psikologis pelaku, politik global, dan faktor lainnya.

Dikatakan, radikalisme tidak muncul dengan sendirinya, tetapi ada aktor yang menggerakkannya. Oleh karenanya, para ilmuwan mengatakan radikalisme dikembangkan oleh kelompok/lembaga, baik yang mengatasnamakan ISIS, Al-Qaedah, Jamaah Islamiyah atau sebutan lain.

Mereka membangun gerakan berpedoman pada ideologi jihadiyah yang dipahaminya.Paham ini masuk melalui kegiatan dakwah kampus yang tumbuh pesat akibat pengaruh konflik di Timur Tengah, dan adanya tindakan represif dari pemerintah terhadap kegiatan kemahasiswaan, terutama kebijakan BKK/NKK tahun 1978.

Adapun tumbuh dan berkembangnya organisasi dakwah kampus, lanjut dia, tidak terlepas dari paham dan ideologi yang dilembagakan oleh para pengurus dan anggotanya.

Ideologi punya peran penting dalam memobilisasi mahasiswa dalam memperkuat identitas dan posisi mereka sebagai mahasiswa guna menanggapi perkembangan global.

Ada tiga arus besar dalam perkembangan ideologi yang dianut para aktivis organisasi dakwah kampus, yaitu moderat, radikalis/fundamentalis, dan liberalis. Ketiganya saling berkontestasi baik antarketiga ideologi itu, maupun di internal masing-masing.

Dakwah Kampus

Ideologi pada masa perkembangan awal organisasi dakwah kampus hingga tahun 1980-an yang dikembangkan, menurut Abdul bersifat moderat. Setelah itu berkembang ideologi radikalis/fundamentalis hingga saat ini.

Terbentuknya kelompok radikalis di kalangan aktivis dakwah kampus, tidak lepas dari perbincangan masalah sosial politik, keberagaman, kemahasiswaan, dan kehidupan kampus.

Masalah itu diperbincangkan berulang, dan sering dikaitkan dengan institusi, wacana global, atau pranata sosial lain, dalam konteks ini wacana tumbuh dan berkembang. Teori wacana menjelaskan manusia ada bukan karena ia berpikir rasional, namun karena bahasa.

Selain itu, dalam teori wacana juga dinyatakan, di balik bahasa dan kekuasaan, ada ideologi tersembunyi yang menjadi pemicu lahirnya bahasa yang diwacanakan. Ideologi bisa diungkap, manakala peneliti mengkaji kata-kata atau dialog yang diperbincangkan.

Melalui bahasa dan ideologi yang dianut kelompok Islam radikal, akhirnya mereka menghegemoni kegiatan dakwah kampus. Guna melakukan, counter terhadap hegemoni itu, kata dia, diperlukan adanya gerakan moral dan intelektual yang dilakukan secara konsensus.

Selain itu kampus hendaknya memberikan ruang publik terbuka kepada semua organisasi/ lembaga dakwah untuk ambil bagian dalam kegiatan dakwah kampus. Selain itu materi-materi dakwah yang selama ini diajarkan kelompok Islam radikal ataupun liberal perlu dilakukan revitalisasi, dengan memperkuat pemahaman ajaran Islam yang moderat, dan menyinergikan dengan pendidikan kewarganegaraan.

Para dai juga dapat memasukkan dan mengintegrasikan materi agama, dengan pendekatan interdisipliner dalam tema keseharian mahasiswa yang terkait kehidupan modern, tantangan masa depan, peroblematika remaja, dan perkembangan iptek.

Berita disalin dari https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/142518/abdul-basit-guru-besar-ilmu-dakwah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *